Minggu, 17 April 2011
penindasan teroris
Penindakan teroris dengan kekerasan hanya akan menumbuhkan kebencian dan serangan balasan. Perlu HO2 untuk menaklukan teroris dan mengembalikannya ke masyarakat. Apa itu HO2?
"Hati-Otak-Otot, itu HO2. Sekarang ini kan hanya O2 atau Otak-Otot yang ditonjolkan," ujar Ketua Pokja Antiteror Dewan Ketahanan Nasional, Wawan Purwanto saat dihubungi detikcom, Kamis (16/4/2011) malam.
Wawan menjelaskan dengan hati, teroris yang paling garang pun bisa ditaklukan dan disadarkan kembali. Cara-cara inilah yang kini dikedepankan oleh pihaknya dalam mengatasi teroris.
"Kalau yang dikedepankan cuma penindakan, yang muncul hanya dendam dan aksi balasan. Pembinaan dan pencegahan, ini yang dikedepankan. Memang ada penindakan, tapi porsinya sebenarnya sangat kecil," jelas pengamat intelijen ini.
Menurutnya sudah sekitar 320 mantan teroris yang dibina. Sebagian besar berhasil dibina, namun ada 20 orang yang kemudian hilang kontak. Salah satunya Bagus Budi Pranoto alias Urwah, yang kemudian ditembak mati bersama Noordin M Top di Solo.
"Urwah itu hilang kontak dengan kita, tidak tahunya dia bergabung lagi dengan Noordin," terang Wawan.
Menurut Wawan memang anak muda lebih sulit dibina. Karena merasa tidak punya tanggungan, atau beban. Emosi mereka gampang sekali tersulut.
"Kalau yang sudah tua biasanya lebih mudah. Kita bina, kita beri modal usaha lalu dikembalikan ke masyarakat," katanya.
Wawan pun menilai media lebih suka mengekspos penindakan atau action untuk menggerebek teroris. Hal ini bisa membahayakan karena membuat marah sisa jaringan yang menyaksikan. Padahal Densus dan pihak kepolisian juga melakukan pembinaan dan tindakan pencegahan.
"Densus itu bantu dan sekolahkan anak-anak teroris juga. Tapi yang seperti ini biasanya tidak diekspos," keluhnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar