Selasa, 05 April 2011

membakar jakarta yeahh

"Kalau anda berpikir lagu ini secara harafiah, anada salah. Ini tentang perasaan personal yang biasa terjadi terutama pada masyarakat urban. Apalagi sebuah kota besar ‘Jakarta’ disini hanya menjadi ikon, menjadi perumpamaan.
 Siapapun yang hidup dalam dunia urban dan rutinitas terlalu lama akan merasakan kebosanan [dan bisa jadi kemarahan], dan kadang pada titik puncaknya bisa ‘meledak’.
 Mungkin lagu ini bisa meredam ledakan tersebut, mugkin juga tidak,
 yang pasti let’s have fun and scream to this one together."

Rutinitas ini, kebosanan ini, begitu nyata. Tak ada rantai tak ada belenggu, tenggelam dan masih bernafas.
 Mendesain kehidupan, mendesain kematian, semua yang tercipta. Hanya lah ilusi, mengejar impian, hanyut dalam kemanjaan.
 Redefinisi perbudakan: rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan: rasakan udara kebebasan.
 Rutinitas ini akankah berhenti, selamatkan dirimu. Distraksi ini, kepuasan ini, kesemuan kini. Merekan keseharian, merekam keseluruhan, segala yang tertunda. Menjadikan bias, mendstorsi makna, tenggelam dalam.
 Redefinisi perbudakan: rasakan tangan mencekik dirimu. Redefinisi kehidupan: rasakan udara kebebasan.
 Mari sini, berdansa denganku: membakar Jakarta. Sekali ini, berdansa denganku: membakar Jakarta. Rutinitas ini, akankan berhenti, selamatkan dirimu. Distraksi ini, kepuasan ini, kesemuan kini. Mari sini, berdansa denganku: membakar Jakarta. Sekali ini, berdansa denganku. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar